Pengikut

Labels

Bisnis Luar Biasa

Super Excellent Network Bersama Meraih Kebebasan Finansial Yang Sebenarnya

Traffik Rank

Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Fosil Mirip Belalang Daun

ADA satu temuan menarik terkait dengan serangga yang memiliki bentuk tubuh menyerupai daun tersebut. Salah satunya adalah temuan fosil serangga yang serupa dengan serangga yang memiliki tubuh bentuk tumbuhan. Jika dilihat dari bentuknya, fosil serangga tersebut mirip dengan capung biasa. Fosil yang ditemukan sekitar 47 juta tahun lalu itu diduga menyerupai eophyllium messelensis. Penemuan yang digawangi Sonja Wedmann dari Institut Paleontology, Bonn, Jerman, tersebut membuktikan satu hal. Yaitu, evolusi yang dialami makhluk hidup dengan bentuk tubuh seperti daun cukup efektif dan bertahan paling lama.


Fakta-fakta di lapangan pun mendukung bahwa fosil itu dulu berbentuk menyerupai daun. Tempat ditemukan fosil tersebut adalah situs sejarah Messel, Jerman, yang memiliki karakteristik penuh pepohonan semasa hidup sang fosil.

Panjang fosil itu diperkirakan bisa mencapai 2,4 inci. Hal tersebut didukung rupa tubuh yang mampu menyamarkan diri di tengah pepohonan untuk menghindar dari serangan para predator yang selalu mengancam. Dengan begitu, sangat mungkin tipe seperti itu bertahan hidup dan berkembang biak. Kecuali, jika pohon di hutan-hutan tumbang satu per satu.

Bentuk tubuh yang menyerupai daun mati itu juga terus berevolusi dan berkembang dari tahun ke tahun. Contohnya, ketika masa revolusi industri di Inggris, warna kupu-kupu di daerah itu berubah menjadi kehitaman untuk menyamarkan dirinya dari ancaman predator di tengah kegelapan langit Inggris yang penuh dengan oleh asap pabrik dan polusi lainnya.(berbagai sumber/d)
Selengkapnya...

Category: , 0 komentar

Perlukah Nyamuk Dimusnahkan Dari Muka Bumi?

Punahnya satu makhluk pasti berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Tapi jika yang punah adalah nyamuk penyebab berbagai penyakit seperti malaria, demam berdarah hingga chikungunya, adakah dampak negatifnya? 

Perlukah serangga satu ini dihabisi agar dunia terbebas dari penyakit akibat serangga?


Nyamuk merupakan salah satu serangga yang sudah ada sejak zaman dulu kala. Peneliti memperkirakan, serangga ini sudah hidup berdampingan dengan makhluk lain di muka bumi ini sejak 100 juta tahun yang lalu.

Dari lebih dari 3.500 spesies nyamuk di muka bumi ini, sebenarnya hanya ada ratusan spesies yang menyerang manusia. Namun tak dapat dipungkiri, nyamuk menjadi salah satu musuh utama karena menularkan berbagai penyakit mematikan.

Berbagai upaya pernah dilakukan oleh manusia untuk melenyapkan nyamuk, terutama jenis tertentu yang menularkan penyakit. Sebagian besar memang masih sebatas riset di laboratorium, namun prospeknya cukup menjanjikan.

Salah satunya pernah dilakukan oleh tim dari University of Oxford. Rekayasa genetika yang dilakukan tim tersebut berhasil menciptakan nyamuk jantan yang jika mengawini nyamuk betina maka akan menghasilkan nyamuk tak bersayap.

Meski bisa menggigit, nyamuk mutan tersebut tidak bisa terbang karena tidak memiliki sayap. Karena nyamuk betina harus terbang untuk bisa minum darah, lama-kelamaan nyamuk tidak bisa berkembang biak lalu punah.

Dengan teknologi yang sama, tim dari University of Arizona juga pernah menghasilkan nyamuk anophales yang kebal virus malaria. Meski tidak bertujuan untuk memusnahkan nyamuk, cara ini juga bertujuan untuk melenyapkan penyakit
malaria.

Seandainya nyamuk-nyamuk mutan itu bisa diproduksi secara masal lalu dilepas ke alam dan menyebabkan kepunahan, dampak seperti apa yang akan terjadi?

Dikutip dari Nature, Rabu (18/8/2010), dampak paling besar dari punahnya nyamuk akan terjadi di habitat tundra (padang es) di kutub utara. Di tempat yang merupakan sarang terbesar bagi spesies nyamuk Aedes impiger dan Aedes nigripes, migrasi burung akan berkurang hingga 50 persen karena berkurangnya salah satu makanan kesukaan para burung.



Migrasi satwa yang lain juga akan terpengaruh, antara lain karibu atau sejenis rusa kutub. Ribuan karibu yang sebelumnya menghindari gigitan nyamuk akan menyerbu wilayah tundra, lalu diikuti para serigala yang merupakan predator utama para karibu.

Spesies ikan pemakan nyamuk, Gambusia affinis juga terancam punah jika nyamuk sudah tidak ada. Punahnya ikan ini sedikit banyak tentunya juga akan berdampak pada rantai makanan yang terjadi di perairan air tawar.

Terlebih lagi, larva atau jentik nyamuk turut memegang peran dalam penguraian sampah organik. Saat berada di genangan air, jentik-jentik tersebut mendapatkan nutrisi untuk tumbuh dari sisa-sisa tanaman yang membusuk.

Namun banyak kalangan menilai, dampak yang terjadi di ekosistem tersebut sebanding dengan tingkat kematian pada manusia akibat gigitan nyamuk. Malaria misalnya, tercatat menelan 247 juta korban jiwa di seluruh dunia setiap
tahunnya.

Apalagi para pakar meyakini, berbagai jenis insektivora (pemakan serangga) tidak akan terlalu kesulitan beradaptasi untuk beralih memangsa serangga lain jika sudah tidak ada nyamuk. Sedangkan untuk penguraian sampah organik, peran jentik nyamuk bukan tak tergantikan karena masih banyak jenis pengurai yang lain.


Sumber :
health.detik.com
Selengkapnya...

Category: , 0 komentar

NASA: Dua Asteroid Lewati Bumi Pada 8 September

Washington (ANTARA/Xinhua-OANA) - Dua asteroid melewati dalam jarak bulan dari Bumi pada Rabu, namun tidak akan menghantam bumi, kata Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) Selasa.

Survei Catalina Sky kini berada dekat Tucson, Arizona menemukan kedua obyek itu pada Ahad lalu. Pusat Planet Kecil di Cambridge, Massachussets, meninjau kembali observasi mereka dan memutuskan orbit-orbit awal.

Petugas Pusat Planet menyimpulkan kedua benda itu akan melewati dalam jarak antara bulan dan bumi, sekitar 240.000 mil.

Asteroid tersebut bisa dilihat dengan teleskop amatir berukuran moderat.

Menurut NASA, asteroid 2010 RX30 itu diperkirakan berukuran 32 sampai 65 kaki dan akan melewati dalam kisaran 154.000 mil dari Bumi pada pukul 05:51 waktu Washington Rabu.

Obyek kedua, 2010 RF12, diperkirakan berukuran 20 sampai 46 kaki dan akan melewati dalam kisaran 49.000 mil pada pukul 17:12 waktu setempat.

Selengkapnya...

Category: 0 komentar

Tikus Hidup Lebih lama Tanpa Ayah

Ternyata tikus tanpa ayah hidup lebih lama. Dikutip Livescience, sebuah penelitian yang dilakukan Tomohiro Kono, pemimpin studi dari Tokyo University of Agriculture telah membuktikannya. Tikus betina yang diproduksi menggunakan bahan genetik dari dua ibu dan tak berayah, hidup hampir 30 persen lebih lama dibanding tikus dengan ayah dan ibunya. Temuan ini memberikan bukti pertama bahwa gen sperma mungkin memiliki efek merugikan pada usia mamalia. “Kita telah mengenal selama beberapa waktu bahwa wanita cenderung hidup lebih lama daripada laki-laki di hampir semua negara di seluruh dunia. Dan bahwa berbagai perbedaan hubungan seks di usia lanjut juga terjadi di banyak spesies mamalia lain,” kata Kono.

Meski begitu, Kono menambahkan, alasan perbedaan itu tidak jelas. Ditambah lagi tidak diketahui apakah umur panjang pada mamalia dikendalikan komposisi genom hanya satu atau kedua orang tuanya. Temuan ini mungkin merupakan langkah menuju pemahaman, mengapa banyak spesies mamalia betina hidup lebih lama daripada rekan-rekan jantan mereka. 


http://id.shvoong.com/exact-sciences
Selengkapnya...

Category: 0 komentar

Ilmuwan Perdebatkan Dinosaurus Kerdil

DINOSAURUS kecil hidup di Transylvania Rumania sekitar 70 juta tahun lalu. Sisa dinosaurus bernama Magyarosaurus Dacus itu terus jadi perdebatan selama beberapa tahun. 

Ilmuwan masih berdebat apakah fosil itu benar dinosaurus kurcaci atau sekadar dinosaurus muda yang sedang berkembang menjadi lebih dewasa, seperti dikutip dari inilah.com.

Dinosaurus itu merupakan bagian dari titanosaurus, bagian sauropoda raksasa (dinosaurus pemakan tumbuhan). Jika dibandingkan dengan salah satu titanosaurus terbesar, argentinosaurus yang memiliki bobot sama seperti 10 gajah Afrika, maka manusia pasti akan terlihat sangat kecil. Saat ini, peneliti telah melihat lebih dekat struktur tulang dari sisa dinosaurus kecil ini.(int/d) 

http://xpresiriau.com Selengkapnya...

Category: 0 komentar

Cadangan Uranium Kalbar Cukup untuk 150 Tahun

Pontianak (ANTARA News) - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Kalimantan Barat, Fathan A Rasyid, menyatakan bahwa cadangan uranium di provinsi itu bisa digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir selama 150 tahun. "Dari data yang ada Kalbar setidaknya memiliki 25 ribu ton uranium yang tersebar di sekitar Kabupaten Melawi," kata Fathan A. Rasyid di Pontianak, Sabtu.

Ia mengatakan, PLTN merupakan solusi dalam mengatasi kekurangan energi listrik di Kalbar dan Pulau Kaliamantan pada umumnya.

"Baru-baru ini Bapedda Sekalimantan telah menyepakati akan mengembangkan PLTN di pulau itu dalam mengatasi kekurangan energi listrik," kata Fathan.

Kalbar setidaknya memiliki PLTN berkapasitas 1.000 mega watt untuk mengatasi krisis listrik di provinsi itu. "Akibat krisis listrik tidak sedikit niat investor yang ingin menanamkan modalnya harus ditolak karena terbatasnya pasokan listrik," katanya.

Ia mengatakan ke depan energi listrik dari nuklir memang harus diperhitungkan, kalau tidak diambil langkah tersebut maka krisis listrik di provinsi ini akan terus berkepanjangan.

"Kami menargetkan PLTN bisa terwujud 10 hingga 16 tahun ke depan. Saat ini pengembangan PLTN di Kalbar sudah masuk tahap studi kelayakan atau pase dua," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalbar Cornelis mengatakan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Melawi dan Landak di provinsi itu dapat menjadi lokasi pembangunan PLTN.

Menurut dia, Kalbar memenuhi syarat untuk dibangun PLTN, karena salah satu wilayah yang mempunyai uranium, yakni di Kabupaten Melawi.

Selain itu, lanjut dia, Kalbar relatif aman dari bencana seperti gempa. "Sekarang bagaimana mengemas teknologi supaya tidak bocor, dan limbahnya aman," katanya.

Gubernur Cornelis telah menyampaikan usulan pembangunan PLTN itu kepada Dewan Energi Nasional.

Namun, lanjut dia, rencana dan pengembangan sumber energi di Kalbar sangat tergantung komitmen dari Pemerintah Pusat. "Investor sebenarnya banyak yang mau untuk mengembangkan listrik di Kalbar," katanya.

Konsumsi terbesar energi listrik di Kalbar untuk Kota Pontianak dan sekitarnya. Beban puncak sekitar 123 MW, daya mampu 148 MW.

KOMPAS.com
Selengkapnya...

Category: 0 komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...